Hilangnya 'Seni' dalam Menulis Kode: Transformasi dari Coder menjadi Product Engineer
Ada kesunyian yang aneh saat saya memandang kursor yang berkedip di layar editor saya hari ini.
Dulu, menulis kode adalah sebuah bentuk kerajinan tangan. Saya ingat betapa saya membanggakan penguasaan atas Vim—bagaimana jari-jari saya menari di atas tombol h, j, k, dan l. Bagi orang lain, itu mungkin sekadar efisiensi navigasi. Namun bagi saya, itu adalah tentang kontrol total. Ada kepuasan hampir religius ketika pikiran dan eksekusi menyatu tanpa jeda, menggeser logika kode tanpa sekali pun menyentuh mouse. Saat ini, kemampuan itu terasa seperti mengumpulkan kayu bakar di tengah kota yang sudah dialiri listrik. Masih bisa dilakukan, tapi tidak lagi relevan.
Namun, yang lebih menyakitkan bukan hilangnya relevansi teknis, melainkan hilangnya rasa “menang”.
Saya merindukan momen-momen melelahkan saat terjebak dalam satu bug yang sama selama berhari-hari. Saya rindu rasa frustrasi yang mendalam, penyelaman tanpa akhir ke dalam dokumentasi yang membosankan, dan trial-error yang melelahkan. Karena justru di titik nadir itulah, saat solusi akhirnya ditemukan, terjadi ledakan dopamin yang luar biasa. Itulah momen “Eureka!” yang membuat saya merasa hidup sebagai seorang engineer.
Kini, ritual itu telah digantikan oleh siklus yang steril: Prompt $ ightarrow$ Generate $ ightarrow$ Debug $ ightarrow$ Repeat.
Tidak bisa dipungkiri, ini adalah puncak efisiensi. Fitur-fitur dibangun dalam hitungan menit. Namun, dalam kecepatan ini, ada sesuatu yang tercuri: kepuasan dalam berproses. Ketika AI memberikan jawaban, saya tidak lagi “menemukan” jalan keluar; saya hanya “menerima” instruksi. Kita menang dalam produktivitas, tetapi kita sedang mengalami kemiskinan intelektual.
Namun, apakah saya harus berhenti di titik kesedihan ini?
Saya mulai menyadari bahwa mungkin ini adalah undangan untuk berevolusi. Jika dopamin saya dulu berasal dari keindahan proses teknis, maka kini saya harus mencari dopamin dari jenis yang berbeda.
Saya mulai menggeser identitas saya. Saya tidak lagi ingin hanya menjadi seorang coder yang membanggakan sintaksis atau efisiensi editor. Saya ingin menjadi seorang Product Engineer.
Dalam peran baru ini, kepuasan saya tidak lagi datang dari betapa rumitnya saya memecahkan sebuah bug, melainkan dari seberapa besar masalah manusia yang bisa saya selesaikan. AI telah mengambil alih peran sebagai “penulis kode”, tetapi AI tidak bisa mengambil alih peran sebagai “pemecah masalah” dan “perancang pengalaman”.
Kini, saya mencari kepuasan baru: melihat produk yang saya bangun dengan bantuan AI benar-benar digunakan, menyentuh kehidupan orang lain, dan memberikan manfaat nyata. Kepuasannya tidak lagi terletak pada bagaimana kode itu ditulis, tetapi pada mengapa produk itu ada.
Saya mungkin kehilangan kebanggaan atas hjkl di Vim, tapi saya menemukan kebanggaan baru dalam menciptakan solusi. Kita tidak sedang kehilangan jati diri; kita hanya sedang bermigrasi ke level yang lebih tinggi. Dari sekadar menulis baris demi baris kode, menjadi arsitek yang membangun nilai.
Ternyata, AI tidak membunuh kebahagiaan saya. Ia hanya memaksanya untuk berpindah tempat.
Kredit: Artikel ini merupakan pemikiran asli dari Taufik Nurhidayat. Aren membantu dalam proses penyusunan struktur dan penulisan agar lebih mengalir.